Gedung Bersejarah Grahadi Surabaya Dibakar Massa, Usianya Mencapai 2 Abad




SURABAYA — Gedung Negara Grahadi, salah satu bangunan paling bersejarah di Surabaya, dibakar massa pada Sabtu (30/8) malam. Api melahap bagian barat gedung yang merupakan ruang kerja Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak.

Gedung yang kini berfungsi sebagai rumah dinas Gubernur Jawa Timur ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan masa kolonial Belanda. Menurut sejarawan Kota Surabaya, Kuncarsono Prasetyo, bangunan ini berusia lebih dari 200 tahun, tepatnya 2,5 abad.


Sejarah dan Arsitektur Bangunan



Gedung Grahadi dibangun pada tahun 1795 atas perintah Residen Surabaya saat itu, Dirk van Hogendorp. Arsitektur atapnya dipengaruhi oleh gaya Prancis, Oud Holland Stij, karena pada masa itu Belanda berada di bawah jajahan Prancis.

"Semua atap bangunan Grahadi ada pengaruh elemen arsitektur Prancis, tapi atap bangunan gedung Grahadi bagian tengah itu kemudian direnovasi pada akhir tahun 1900-an menjadi lebih bergaya Belanda," jelas Kuncar. Ia menambahkan, atap di sayap kanan dan kiri yang dibakar massa tidak pernah direnovasi, sehingga masih memiliki gaya asli Prancis.

Awalnya, Gedung Grahadi menghadap ke arah utara, tepatnya ke Sungai Kalimas, untuk menikmati pemandangan sungai yang ramai. Namun, saat renovasi, posisi gedung diubah menghadap ke selatan, ke arah Jalan Gubernur Suryo saat ini.

Gedung ini awalnya dirancang sebagai tempat pertemuan resmi dan rumah jamuan bagi pejabat Belanda dan elite Eropa. Setelah kemerdekaan, namanya diubah menjadi Grahadi, yang berasal dari bahasa Sansekerta, "Graha" (rumah) dan "Adi" (utama atau mulia), yang berarti "Rumah Mulia".

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama