Juru Bicara Sekretariat Parlemen Nepal, Ekram Giri, mengonfirmasi bahwa ratusan demonstran berhasil menerobos masuk ke kompleks parlemen dan membakar gedung utama. “Ratusan orang menerobos masuk area parlemen dan membakar gedung utama,” kata Giri, dikutip dari AFP.
Aksi unjuk rasa ini merupakan puncak dari gelombang protes besar-besaran yang dipicu oleh kebijakan kontroversial pemerintah untuk melarang penggunaan media sosial—kebijakan yang kemudian dicabut setelah memicu kemarahan publik dan menewaskan belasan orang.
Demo yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi aksi kekerasan. Massa menyerbu gedung-gedung pemerintah dan membakar rumah sejumlah politisi di Kathmandu. Militer dilaporkan harus mengevakuasi beberapa menteri menggunakan helikopter guna menghindari amukan massa.
Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak turut mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab atas eskalasi kekerasan dalam aksi unjuk rasa ini. Sehari setelah pengunduran dirinya, rumahnya turut didatangi oleh demonstran.
Gerakan protes ini didominasi oleh generasi muda, terutama Gen Z, yang menyerukan pemberantasan korupsi dan keadilan sosial. Mereka menuntut perubahan sistemik dan reformasi menyeluruh dalam tubuh pemerintahan.
Hingga rilis ini diturunkan, korban tewas akibat bentrokan telah mencapai 19 orang, dengan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Polisi Nepal telah dikerahkan secara masif dan dilaporkan menggunakan peluru karet untuk membubarkan massa. Namun, warga mengklaim menemukan proyektil peluru tajam di lokasi kejadian.
Gelombang protes masih terus berlangsung. Massa dari berbagai penjuru Nepal terus mengalir menuju ibu kota, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di negara Himalaya tersebut.
