BANDAR LAMPUNG, 18 Februari 2026 – Dinas Koperasi (Diskop) dan UKM Kota Bandar Lampung mengambil langkah tegas dalam menertibkan administrasi organisasi ekonomi di wilayahnya. Sebanyak 200 koperasi kini berstatus tidak aktif dan telah resmi diusulkan kepada kementerian terkait untuk dibubarkan.
Langkah ini diambil setelah proses verifikasi lapangan menunjukkan ratusan koperasi tersebut tidak lagi menjalankan aktivitas operasional, tidak melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT), serta memiliki kepengurusan yang tidak aktif.
Data Terkini Koperasi di Bandar Lampung Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Riana Apriana, menjelaskan bahwa dari total sekitar 500 koperasi yang terdata, saat ini hanya tersisa 316 koperasi yang dinyatakan aktif dan sehat.
“Koperasi yang aktif terdiri dari 190 koperasi konvensional dan 126 Koperasi Merah Putih. Sisanya sudah kami usulkan untuk dibubarkan karena sudah lama tidak beroperasi. Kewenangan pembubaran ada di pusat, namun kami secara rutin melakukan penilaian untuk kategori koperasi sehat dan berprestasi,” jelas Riana, Rabu (18/2).
Inovasi Kemasan: Dongkrak Nilai Jual UMKM Di tengah penertiban koperasi, Pemerintah Kota Bandar Lampung di bawah kepemimpinan Wali Kota Eva Dwiana justru menggenjot dukungan bagi pelaku UMKM. Salah satu program unggulannya adalah fasilitasi pembuatan kemasan produk berkualitas tinggi secara gratis maupun dengan kuota fleksibel.
Berbeda dengan daerah lain yang mensyaratkan pesanan minimal ribuan unit, Diskop Bandar Lampung memberikan kemudahan luar biasa bagi pelaku usaha pemula.
“Kami melayani pemesanan kemasan mulai dari 50 pcs agar pelaku usaha pemula punya nilai jual tinggi. Bahkan, kami sediakan tim desain grafis bagi UMKM yang belum memiliki branding. Syaratnya mudah: warga Bandar Lampung, memiliki usaha aktif, dan perizinan yang jelas,” tambah Riana.
Hingga kini, sebanyak 51 UMKM telah memanfaatkan layanan cetak kemasan ini. Inovasi ini diharapkan mampu memutus rantai kendala permodalan bagi UMKM yang ingin mempercantik tampilan produknya namun terbentur biaya produksi kemasan yang mahal.