
BANDAR LAMPUNG, 7 Januari 2026 – Memasuki awal tahun 2026, sejumlah atlet disabilitas berprestasi di Kota Bandar Lampung masih mempertanyakan komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) terkait bonus umrah yang dijanjikan. Janji yang diucapkan langsung oleh Wali Kota Eva Dwiana pada perayaan HUT ke-343 Kota Bandar Lampung, Mei 2025 lalu, hingga kini dilaporkan belum terealisasi.
Kekecewaan ini mencuat mengingat para atlet telah mengharumkan nama kota di kancah nasional, namun apresiasi religi yang dijanjikan masih sekadar menjadi simbol di atas kertas.
Kronologi Janji dan Insiden "Pembatalan"
Persoalan ini bermula pada 18 Mei 2025, saat Pemkot Bandar Lampung menggelar pemecahan rekor MURI jalan sehat disabilitas.
Apresiasi Simbolis: Wali Kota Eva Dwiana menjanjikan hadiah umrah dan uang tunai Rp25 juta bagi atlet disabilitas berprestasi, termasuk Oko Minaldi (peraih perak Peparnas 2024).
Drama Pembatalan: Kurang dari 24 jam setelah penyerahan simbolis, protokol Pemkot sempat menginformasikan pembatalan hadiah umrah secara sepihak.
Klarifikasi Ulang: Setelah menjadi sorotan publik, Pemkot meralat pembatalan tersebut dan memastikan keberangkatan akan dilaksanakan pada tahun 2025. Namun, hingga Januari 2026, janji tersebut belum juga terwujud.
Suara Atlet: "Hanya Ingin Kepastian"
Salah satu atlet yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa ketidakpastian ini sangat memukul mental para pejuang olahraga disabilitas.
“Kami dijanjikan di hadapan ribuan orang saat HUT Kota. Persoalannya, tahun 2025 sudah berakhir dan sekarang sudah 2026, tapi belum ada kabar keberangkatan. Kami hanya menagih apa yang sudah dijanjikan,” ungkapnya, Sabtu (4/1/2026).
Kabag Kesra Terkesan Hindari Konfirmasi
Upaya awak media untuk meminta penjelasan teknis kepada Kabag Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kota Bandar Lampung, Jonas, menemui jalan buntu. Saat dihubungi maupun didatangi ke kantornya pada Senin (5/1/2026), Jonas terkesan menghindari klarifikasi mendalam.
“Nanti kita atur jadwal kembali,” ujar Jonas singkat melalui pesan WhatsApp.
Dampak Psikologis bagi Atlet
Ketidakjelasan realisasi bonus ini dikhawatirkan menurunkan motivasi atlet disabilitas lainnya di Bandar Lampung. Bonus dan penghargaan bukan sekadar materi, melainkan bentuk pengakuan negara terhadap kesetaraan prestasi warga negara tanpa memandang keterbatasan fisik.